“Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah dan janganlah engkau lemah.” (HR. Muslim)
“Ya Rabb, hanya rahmat-Mu yang kuharapkan, Maka janganlah Engkau serahkan aku kepada diriku meski sekejap mata, dan perbaikilah urusanku seluruhnya. (Sungguh) tidak ada Tuhan selain Engkau.” (HR Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Hibban).
Dear shalihah, mari sejenak mengingat kembali, dari sejak kita dicipta dan terlahir ke bumi, kita telah membuat janji bahwa kita akan taat pada-Nya, maka tidak ada alasan untuk tidak bersungguh-sungguh dalam upaya menggapai ridho Allah Subhanahu Wa Ta’ala hingga nanti saatnya Allah berkata waktunya pulang.
Tiga kata kunci dalam hadits ini adalah tekad, memulai jalan, dan meminta pertolongan kepada Allah. Hadits ini menyuruh kita untuk punya cita-cita besar dan semangat untuk hal yang bermanfaat bagi kita. Apa yang bermanfaat? Urusan yang bermanfaat itu ada dua bagian: urusan akhirat dan urusan dunia. Seorang hamba butuh dengan hal dunia, sebagaimana ia juga butuh pada hal akhirat. Walau ada tingkatannya, mana hal yang bisa didahulukan jika bersamaan (Fiqh Prioritas). Poros dari kebahagiaannya dan taufik dari Allah adalah bersungguh-sungguh untuk menyiapkan hal yang bermanfaat baginya untuk hal dunia dan akhirat.
Imam Syafii berkata, “Antusiaslah terhadap apa saja yang bermanfaat padamu dan tinggalkan komentar manusia karena tidak ada orang yang bisa selamat dari komentar orang-orang jahil”. Poin utamanya adalah bukan hanya semangat bercita-cita besar saja, melainkan juga jangan lupa minta pertolongan kepada Allah. Walau punya semangat tinggi, tekad kuat, merasa pintar, merasa punya fasilitas, tanpa pertolonga Allah, tak akan terwujud.
Banyaknya kegagalan yang terlewati dalam perjalanan mencari kesuksesan adalah karena kurangnya tekad dan keraguan pada diri sendiri. Maka solusi lelah adalah istirahat, bukan berhenti/menyerah. Istirahat adalah untuk isi ulang semangat, bukan lupa waktu untuk kembali berangkat. Strategi bukan mengamati apa yang bisa kita lakukan untuk masa depan, tetapi mengamati apa yang bisa kita lakukan pada hari ini agar punya masa depan.
Mari kita berhati-hati terhadap manajemen afwan, sedikit-sedikit mengucapkan afwan untuk beralasan dalam hal dakwah. Mari berazzam, jangan berikan yang sisa untuk Islam. Itqan, istiqomahlah, professional dalam tiap urusan, sebab segala hal adalah amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan.
Ketika kita tidak atau belum bisa memperbaiki lingkungan, maka kita bisa memilih untuk diam-diam memperbaiki diri kita sendiri. Ketika kita tidak bisa mengubah kejadian, maka kita bisa mencoba untuk mengubah sikap dan sudut pandang kita sendiri. Ketika kita tidak mampu mengubah masa lalu, kita bisa memilih untuk mengubah diri kita yang sekarang. Kita tidak bisa tahu apa yang akan terjadi besok, tapi kita bisa mengendalikan diri untuk memaksimalkan hari ini. Masa depan untuk direncanakan, tapi bukan untuk dikhawatirkan. Esok adalah akumulasi dari apa yang kita upayakan pada setiap hari ini. Yakini bahwa Allah telah berjanji kita akan menuai dari apa yang kita tanam. Ikhtiarkan yang terbaik dan bersihkan hati untuk menagih apa yang telah dijanji.
Selayaknya es batu, ia akan tetap mencair seiring berjalannya waktu. Demikian juga dengan usia, ia akan tetap berlalu meski kita tak melakukan apapun. Maka pilihannya adalah bangkit segera untuk segera mengambil peran terbaik, bergerak atau tergantikan. Sekarang atau tidak sama sekali. Karena terkadang tidak akan lagi dijumpai kata nanti, atas kesempatan yang telah terlewati.
Jika kamu insecure, segera ingat ayat ini:
“Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya.” (QS. At Tin ayat 4).
Alasan kita hadir adalah dituntut untuk mengambil peran terbaik, maka jadilah muslih. Seorang muslim tak cukup menjadi orang shalih yang puas dengan keistiqamahan dirinya. Tetapi ia harus menjadi seorang muslih yang berusaha mengajak orang lain untuk beristiqamah. Syaikh Shalih Al-Fauzan hafidzahullah berkata, “Tak cukup bagi seseorang untuk mengatakan, ‘saya tak berkewajiban kecuali hanya mengurus diri sendiri dan tak peduli dengan orang lain.’ Akan tetapi harus berusaha seoptimal mungkin untuk menshalihkan orang lain, karena hal itu bagian dari nasihat dan cinta kebaikan bagi orang lain”. (Ittihaful Qari’).
Bertekad kuat (azzam) atas impian apapun yang engkau yakini itu bermanfaat bagi banyak hal khususnya bagi dakwah dan ummat, akan menjadi kenyataan, ketika Allah sudah izinkan, dan izin Allah biasanya akan turun ketika kita berani untuk bermimpi, mengupayakannya menjadi terwujud. Fokuslah pada hal yang bisa kamu control, luruskan niat, berikan usaha terbaik, progress yang terencana dan bertawakkal. Sebab apapun itu, pilihan dari sisi Allah adalah yang terbaik bagi kita. Do the best and let Allah do the rest. Maka berusahalah menjadi dirimu dengan segala kemampuan terbaik yang kamu miliki dan mampu lakukan.
Ketika merasa kecewa, sedih , gagal dan marah, segera pilih lensa kebahagiaan kita. Karena bahagia itu kita yang mencipta dengan cara pandang diri sendiri, karena bahagia tercipta dari cara pandang kita terhadap suatu hal yang terjadi pada kita. Begitu pula halnya dalam perjalanan mencapai tujuan, tak akan semulus rencana, ketika menemui kegagalan atau kesulitan, jangan menyerah. Nikmati prosesnya dan berjuanglah di atas keyakinan yang ada pada dirimu (trust the process, enjoy the journey, ‘n live ur believes). Karena setiap lelah yang lillah akan mendapat pahala yang berlimpah. Batasan itu kita yang ciptakan sendiri dalam pikiran, nothing impossible, yang ada I’m possible. Kita bisa, insha Allah bisa. You is your only limit. Dan Allah’s power is limitless, mungkin kita terbatas, tapi kuasa Allah, tanpa batas. Mintalah petunjuk dan kemudahan jalan kepada-Nya.
Doa menjadi sarana terbaik di saat kita tidak punya apa-apa, senjata paling ampuh adalah kita punya doa terbaik, bertanyalah pada yang paling mengetahui diri kita, pada yang memiliki diri kita. Sebab tak ada yang bisa mengubah takdir selain doa, yang dapat menambah umur hanyalah amalan kebaikan. (HR. Tirmidzi, no.2139, hasan). Makin kita banyak berdoa, takdir akan mudah kita hadapi.
Lakukan semua peluang amal kebaikan apapun yang dapat kau ambil, mohon kekuatan-Nya dengan doa maka Allah yang akan menyelesaikan. Bersihkan hati dari dengki, sombong dan riya. Jika hatimu bersih maka akan ada cahaya yang kamu tidak tahu apa itu, ada orang-orang yang mencintaimu tanpa sebab, ada kemudahan yang tidak tahu dari mana asalnya.
Wallahu Ta’ala A’lam
Semoga shalawat serta salam Allah tercurah atas hamba dan Rasul-Nya Nabi kita Muhammad, para keluarganya dan sahabat-sahabatnya semuanya. (LTL)

